Ust. Abu Ammar al-Ghoyami



Semulia-mulia ilmu adalah ilmu mengenal Alloh yaitu ilmu tentang tauhid kepada Alloh, karena mulia atau tidaknya suatu ilmu sesuai dengan sesuatu yang hendak diketahui. Jika hal yang berkaitan dengan mencuri maka kehinaan ilmu itu sesuai pula dengan pekerjaan itu, begitu juga dengan ilmu dunia maka kemuliaannya sesuai pula dengan kedudukan dunia itu sendiri. Continue reading

Ust. Abu Ammar Abdul Adhim Al-Ghoyami
Ikrar keridhoan seorang muslim kepada Alloh subhanahu wata’ala sebagai Robbnya, kemudian kepada Muhammadshallallahu ‘alaihi wasallam sebagai nabinya, dan Islam sebagai agamanya merupakan aqidah yang mendasar yang harus mewarnai dan memenuhi setiap relung kalbu seorang muslim. Di samping itu ia harus terealisasikan dalam kehidupannya berupa amalan maupun ucapan yang harus juga diridhoi. Sehingga seharusnyalah setiap muslim itu di samping mengenal Alloh subhanahu wata’ala Robbnya, dan mengenal Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai rosulnya, ia hendaknya mengenal Islam sebagai agamanya. Continue reading
Ust. Abu Ammar Abdul Adhim Al-Ghoyami

Untuk apa kita memberi kepada orang lain?
Untuk apa kita mengajak kepada kebaikan?
Untuk apa kita berbuat baik?
Demi ucapan terima kasih?
Untuk diungkit-ungkit?
Demi sanjungan?
Demi kenangan?
Demi pujian?
Demi…
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لاَ نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih”. (Qs. Al-Insaan: 9).
Dia juga berfirman:
وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلاَّ عَلَىٰ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam”. (QS. Asy-Syu’araa: 180).
Allah Ta’ala juga berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)” (QS. Al Baqarah: 264).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الإِيمَانَ
“Barang siapa yang mencintai karena Allah.
Membenci karena Allah.
Memberi karena Allah.
Dan tidak memberi juga karena Allah.
Maka sungguh dia telah menyempurnakan imannya.”
(HR. Abu Dawud, disahihkan al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud 10/181 no. 4681, Maktabah Elektronik Asy-Syamilah).
Namun demikian orang yang diperlakukan dengan baik atau diberi sudah sepantasnya bersyukur, mengucapkan terima kasih dan mendoakan dengan kebaikan.
Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa diperlakukan baik lalu ia mengatakan kepada pelakunya,
جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا
“Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan,” ia telah tinggi dalam memujinya.” (Shahih Sunan At-Tirmidzi).